Menjadi Dosen di Luar Indonesia


Minggu lalu, gue ngumumin tentang perubahan kontrak gue dari fixed menjadi continuing di University of Melbourne.

Buat dosen yang bekerja di bidang akademik di Australia atau yang menggunakan sistem UK pada umumnya, perubahan jenis kontrak ini cukup penting.

Fixed dan continuing, apa bedanya?

Di Australia, fixed contract berarti lo dikontrak sebagai dosen hanya pada jangka tertentu, tanpa jaminan untuk mendapatkan perpanjangan atau kontrak diperbaharui.

Continuing contract berarti tidak ada tanggal akhir di kontrak lo sebagai dosen. Apa ini sama dengan permanen? Nggak juga. Tergantung apa yang ada di kontrak lo, banyak syarat yang lo harus penuhi supaya kontrak ini bisa ‘jalan terus’. Ada masa probation. Ada juga yang namanya confirmation. Confirmation adalah periode tertentu dimana kontrak lo akan dicek kelayakannya, biasanya dalam waktu 5 tahun. Bisa dibilang, periode sampai confirmation ini serupa dengan tenure track di sistem Amerika. Kalau sudah confirmed baru lah bisa dibilang kalau posisi gue permanen (di sistem Amerika: tenured).

Karena sistem pendidikan di luar Indonesia yang neoliberal, kontrak continuing atau tenure track jarang dikasih ke dosen muda (early-career academic) ketika mereka baru lulus S3. Ada beberapa pengecualian, tentu. Tapi, pada umumnya, untuk mendapatkan kontrak permanen, lulusan S3 perlu mencari pengalaman postdoctoral dulu.

Postdoctoral fellowship

Posisi postdoctoral ada banyak bentuknya. Bentuk paling umum adalah yang disebut postdoctoral fellowship, yang bisa berlangsung selama 6 bulan sampai 5 tahun, tergantung posisi yang ditawarkan.

Seorang postdoc biasanya akan menghabiskan waktunya meneliti. Banyak posisi postdoc juga yang menawarkan kesempatan mengajar. Biasanya postdoc bekerja di dalam tim riset besar atau sebuah centre atau institute.

Gue sempat menjadi postdoctoral fellow di Departemen Communications and New Media di National University of Singapore (NUS) selama 1,5 tahun. Workload gue adalah setengah neliti dan setengah ngajar (1 mata kuliah per semester).

Ketika postdoc biasanya lo diminta menghasilkan output tertentu, biasanya dalam bentuk publikasi dan kegiatan penelitian terkait. Harapannya, begitu lo selesai postdoc lo bisa apply ke pekerjaan akademik ‘beneran’ seperti menjadi lecturer (di sistem Australia atau UK), assistant professor (di sistem Amerika), atau research fellow (kalau lo hanya mau riset aja, nggak ngajar).

Walau bisa aja lo langsung apply ke pekerjaan akademik ‘beneran’ setelah (atau bahkan sebelum) lulus S3, sejujurnya gue ngerasa pengalaman postdoctoral gue sangat berharga.

Selama gue postdoc gue diberikan kesempatan untuk ‘bingung’. Gue bisa bertanya ke mentor gue (waktu itu, mentor gue adalah Prof Audrey Yue) tentang cara nulis grant application, teknik merevisi disertasi gue jadi manuskrip buku, belajar tentang cara buat seminar atau workshop, dan elemen-elemen penting ketika lo jadi koordinator mata kuliah. Kebingungan ini sangat dipersilahkan selama postdoc, karena intinya lo masih dianggap akademisi muda (banget).

Di masa postdoctoral ini juga gue belajar tentang pentingnya punya daftar publikasi mumpuni untuk jadi kandidat pekerjaan akademik.

Publikasi

Publishing, sebuah kata yang sering bikin stres akademisi. LOL.

Kerjaan dosen memang terkesan ‘gampang’ dibandingkan pekerjaan lain. Jujur, menurut gue jadi dosen itu memang banyak menggoda kawula muda (cie…) nerdy karena dibayangkan kerjaan lo adalah baca dan nulis, kegiatan yang menyenangkan untuk para nerds.

Tapi, tentu, untuk dapat privilege bekerja di bidang di mana lo dibayar buat baca dan nulis, ya lo harus menghasilkan sesuatu. Namanya juga (industri) pendidikan ya. Yang lo hasilkan sebagai akademisi adalah publikasi.

Di luar Indonesia, persaingan punya daftar publikasi yang bagus itu sengit dan intens. Walau semua orang punya keahlian masing-masing, setiap disiplin punya standar jumlah dan kualitas publikasinya sendiri.

Penting bukan cuma ‘sekedar’ punya publikasi, tapi juga dimana publikasi itu terbit. Setiap disiplin ilmu punya ranking jurnal dan penerbitnya sendiri yang dihormati para akademisi di bidang itu. Untuk ranking umum jurnal, bisa dicek di Scimago. Biasanya yang dianggap bagus itu yang masuk Q1 atau Q2 (istilah lainnya, top tier).

Untuk bisa jadi kandidat lecturer atau assistant professor yang bersaing di bidang humaniora dan ilmu sosial, setahu gue, lo perlu 2-3 artikel jurnal di Q1 atau Q2.

Ini cukup menantang untuk bisa lo penuhi selama lo S3 karena proses penerbitan dan peer review di jurnal yang cukup lama (biasanya setahunan atau bahkan bisa dua tahun).

Kalau lo memang tertarik untuk dapat kerjaan dosen di luar Indonesia, lo perlu buat planning publikasi dengan baik dan lihat jangka waktu realistis untuk bisa mencapai standar job market.

Networking

I am not a nepo baby, sayangnya. 😅

Orangtua gue keduanya lulusan SMA. Jadi gue gak lahir dan dibesarkan di keluarga akademisi. Karena itu, gue tahu, networking adalah jalan ninjaku.

Yang gue maksud dengan networking itu gak cuma tentang kenalan, basa-basi, ngomongin all about business, ya. Yang gue maksud di sini adalah genuinely connecting with people that you think matter. Kalau lo networking palsu, para profesor dan bos-bos universitas dan institusi yang bagus bisa lihat dari jauh.

Karena model hiring universitas yang masih menawarkan posisi permanen (beda sama posisi di industri lain yang justru membiasakan pekerja/pegawai pindah-pindah), para dosen, profesor, dekan, dan lain sebagainya sangat berhati-hati dalam memilih pegawai baru, apalagi ketika menimbang siapa yang mau diberikan continuing position atau tenure. Karena itu, kepintaran lo sama pentingnya dengan pembawaan lo (sifat, cara berbicara, cara lo memperlakukan dan bekerja sama orang lain).

Universitas, apalagi yang diranking tinggi di dunia, nggak kekurangan supply orang-orang pintar dengan gelar seabrek-abrek yang mau dipekerjakan. Jadi, pintar doang nggak menjamin lo dapat kerjaan. Punya daftar publikasi panjang pun nggak menjamin.

Di sini lah, networking yang genuine menjadi penting. Seorang profesor, dekan, atau pengambil keputusan lain yang terlibat dalam proses hiring akan lebih mudah ambil keputusan untuk hire lo kalau nama lo pernah mereka dengar sebelumnya (mungkin dari sesama profesor atau rekan kerja lain yang ketemu lo di conference atau pertemuan asosiasi disiplin lo) dan mereka dapat kesan baik.

Kesan baik banyak macamnya: Mungkin lo dikenal banyak orang sebagai peneliti yang bagus, lo enak diajak ngobrol topik-topik kritis, lo bisa diajak diskusi asik, lo orangnya menyenangkan, dll.

Dan kesan baik ini cuma bisa lo bangun dengan networking yang genuine. Gak usah pura-pura, people see you for who you are.


Jadi, menjadi dosen di luar Indonesia prosesnya biasanya lebih panjang daripada menjadi dosen di Indonesia. Pengalaman postdoctoral, publikasi, dan networking sangat penting. Gue sendiri perlu waktu 4 tahunan setelah lulus S3 untuk dapat continuing contract ini. Dan gue tahu perjalanan gua masih panjang.

By:


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: